Mensyukuri 'Perjalanan' 2019

Desember 12, 2019


Pergantian tahun masih terbilang 18 hari ke depan. Suasana nya sudah mulai terasa, ditandai dengan cuaca yang mulai berubah. Meski hujan masih tampak malu-malu turun tapi awan hitam dan tebal hampir tak pernah alpa muncul tiap hari. Pergantian tahun memang identik dengan musim hujan. Pun suara petasan yang sesekali diledakkan pemuda dekat komplek yang juga menjadi penanda akhir tahun semakin dekat. Meski 2020 masih 18 hari ke depan, saya ingin menuliskan beberapa hal yang saya syukuri di tahun 2019 tanpa mengurangi semangat saya membuat 19 hari ke depan lebih bermanfaat. Hal-hal yang saya tuliskan mewakili banyak hal lain yang saya syukuri tahun ini. 


# Gelar baru yang melekat

September lalu, saya akhirnya wisuda. Hal terpenting dari perayaan wisuda itu bagi saya bukan soal gelar baru yang melekat. Bahkan kalau boleh jujur pun, saya cemas meninggalkan status sebagai mahasiswa. Tapi itu hanyalah persoalan lain. Saya tetap bersyukur bahkan sangat bersyukur telah melewati fase paling berat bagi mahasiswa saat beberapa teman saya masih berjibaku dengan hal itu. Kebahagiaan lainnya, keluarga terkhusus orangtua sangat antusias dengan wisuda ini. Meski tidak dengan kata-kata, saya tahu betapa bahagianya mereka melihat bungsunya wisuda. Bahkan sepanjang hari itu mata mereka berkaca-kaca. Wisuda juga identik dengan ucapan-ucapan selamat dan doa-doa dari teman-teman, baik melalui media sosial atau datang langsung ke lokasi wisuda. Mereka datang untuk berfoto-foto ria dan tentu saja membawa hadiah. Datang dengan seikat bunga, sepotong coklat sekotak hadiah yang terbungus rapi, ataupun datang dengan tangan kosong tetap membawa kebahagiaan bagi saya. Being loved is the best gift.


# Teman lama yang hangat

‘Teh..Mauki nginap hari ini di rumah?. Mau datang bundaku. Ada Tika juga,’. Kalau panggilannya teteh atau teh sangat mudah ditebak, pesan yang masuk pasti dari teman seper putih abu-abu –an.

Perasaan saya membaik setelah seharian galau saat membaca pesan itu. Entah kenapa beberapa hari terakhir perasaan saya sangat sensitif memikirkan rencana-rencana  masa depan yang entah akan bermuara di mana.

Saya tahu dari dulu mereka yang saya temui sejak 2011 saat nyantri sudah jadi keluarga. Di antara kami sangat jarang ada rahasia. Senda gurau dari mereka menjadi hal yang selalu saya rindukan dan menjadi penenang tersendiri saat perasaan sedang tidak baik. Mengingat hal itu, panggilan mereka saat berkumpul dan menginap di salah satu rumah teman tidak bisa saya abaikan. Pasti akan ada cerita baru dan pillow talk ala anak gadis yang sudah (merasa) dewasa untuk menghabiskan malam. Atau hanya sekadar mengajukan pertanyaan pertanyaan konyol di antara kami. Sejak 2011, mereka menjadi bagian hal yang saya syukuri tak terkecuali tahun ini dan semoga untuk tahun-tahun yang akan datang dalam hidup saya. 


# Lingkaran teman yang positif

Menemukan teman yang sefrekuensi itu tidak mudah bagi saya yang kurang pergaulan. Saat menemukannya maka akan saya jaga dengan baik. Dalam hal tulis menulis, tahun ini saya mengakui sangat kurang motivasi. Seorang teman tetiba mengajak membuat grup di WhatsApp untuk saling menyemangati dalam menulis dengan media blog Hal ini pula yang menjadikan saya mengunggah tulisan (lagi) di blog ini setelah beberapa bulan vakum. Kalau ibarat rumah, blog ini sudah dipenuhi dengan sarang laba-laba. Meski berat, saya Tarik napas dalam-dalam dan memulai menulis.

Selain menulis, saya memulai mengasah skill bahasa asing. Dimulai dengan Bahasa Inggris yang agak familiar tapi tetap saja membuat pusing saat dihadapkan dengan grammar. Teman yang membuat grup menulis juga mengajak untuk sesekali berkirim pesan dengan Bahasa Inggris untuk membiasakan diri dengan bahasa itu. Teman lainnya berkomitmen untuk saling berkirim satu kata tiap hari untuk kata-kata yang belum familiar kami gunakan. Lain lagi dengan Bahasa Arab. Teman seperjuangan saat nyantri mengajak membuat kelompok belajar, kebetulan diantara kami ada yang melanjutkan kuliah jurusan Bahasa Arab dan sedang berprofesi sebagai guru Bahasa Arab. Jadilah dia didaulat sebagai guru kami. Saya yang pas nyantri hanya belajar dan menghapal Bahasa Arab  demi kepentingan nilai tentu tertarik saat diajak bergabung dan entah bisa bertahan sampai kapan. Saya bahagia dan bersyukur menemukan lingkaran-lingkaran kecil yang mau belajar bersama.


Intinya, tahun ini saya mensyukuri kehadiran orang-orang baik di sekitar saya dan lebih bersyukur lagi orang-orang tersebut membawa pengaruh positif untuk saya baik dalam berpikir maupun bertindak.

You Might Also Like

1 komentar

  1. Beruntungx msh memiliki teman yg sefrekuensi dan bisa action sama2, btw selamat atas kelulusanx��

    BalasHapus

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe