Pergantian tahun masih terbilang 18 hari ke depan.
Suasana nya sudah mulai terasa, ditandai dengan cuaca yang mulai berubah. Meski
hujan masih tampak malu-malu turun tapi awan hitam dan tebal hampir tak pernah
alpa muncul tiap hari. Pergantian tahun memang identik dengan musim hujan. Pun
suara petasan yang sesekali diledakkan pemuda dekat komplek yang juga menjadi
penanda akhir tahun semakin dekat. Meski 2020 masih 18 hari ke depan, saya
ingin menuliskan beberapa hal yang saya syukuri di tahun 2019 tanpa mengurangi
semangat saya membuat 19 hari ke depan lebih bermanfaat. Hal-hal yang saya
tuliskan mewakili banyak hal lain yang saya syukuri tahun ini.
# Gelar baru yang melekat
September lalu, saya akhirnya wisuda. Hal terpenting
dari perayaan wisuda itu bagi saya bukan soal gelar baru yang melekat. Bahkan
kalau boleh jujur pun, saya cemas meninggalkan status sebagai mahasiswa. Tapi
itu hanyalah persoalan lain. Saya tetap bersyukur bahkan sangat bersyukur telah
melewati fase paling berat bagi mahasiswa saat beberapa teman saya masih
berjibaku dengan hal itu. Kebahagiaan lainnya, keluarga terkhusus orangtua
sangat antusias dengan wisuda ini. Meski tidak dengan kata-kata, saya tahu
betapa bahagianya mereka melihat bungsunya wisuda. Bahkan sepanjang hari itu
mata mereka berkaca-kaca. Wisuda juga identik dengan ucapan-ucapan selamat dan
doa-doa dari teman-teman, baik melalui media sosial atau datang langsung ke
lokasi wisuda. Mereka datang untuk berfoto-foto ria dan tentu saja membawa
hadiah. Datang dengan seikat bunga, sepotong coklat sekotak hadiah yang
terbungus rapi, ataupun datang dengan tangan kosong tetap membawa kebahagiaan
bagi saya. Being loved is the best gift.
# Teman lama yang hangat
‘Teh..Mauki nginap hari ini di rumah?. Mau datang bundaku.
Ada Tika juga,’. Kalau panggilannya teteh atau teh sangat mudah ditebak, pesan
yang masuk pasti dari teman seper putih abu-abu –an.
Perasaan saya membaik setelah seharian galau saat
membaca pesan itu. Entah kenapa beberapa hari terakhir perasaan saya sangat sensitif
memikirkan rencana-rencana masa depan yang
entah akan bermuara di mana.
Saya tahu dari dulu mereka yang saya temui sejak
2011 saat nyantri sudah jadi keluarga. Di antara kami sangat jarang ada
rahasia. Senda gurau dari mereka menjadi hal yang selalu saya rindukan dan
menjadi penenang tersendiri saat perasaan sedang tidak baik. Mengingat hal itu,
panggilan mereka saat berkumpul dan menginap di salah satu rumah teman tidak
bisa saya abaikan. Pasti akan ada cerita baru dan pillow talk ala anak gadis yang sudah (merasa) dewasa untuk
menghabiskan malam. Atau hanya sekadar mengajukan pertanyaan pertanyaan konyol
di antara kami. Sejak 2011, mereka menjadi bagian hal yang saya syukuri tak
terkecuali tahun ini dan semoga untuk tahun-tahun yang akan datang dalam hidup
saya.
# Lingkaran teman yang positif
Menemukan teman yang sefrekuensi itu tidak mudah
bagi saya yang kurang pergaulan. Saat menemukannya maka akan saya jaga dengan
baik. Dalam hal tulis menulis, tahun ini saya mengakui sangat kurang motivasi. Seorang
teman tetiba mengajak membuat grup di WhatsApp untuk saling menyemangati dalam
menulis dengan media blog Hal ini pula yang menjadikan saya mengunggah tulisan
(lagi) di blog ini setelah beberapa bulan vakum. Kalau ibarat rumah, blog ini
sudah dipenuhi dengan sarang laba-laba. Meski berat, saya Tarik napas
dalam-dalam dan memulai menulis.
Selain menulis, saya memulai mengasah skill bahasa asing. Dimulai dengan
Bahasa Inggris yang agak familiar tapi tetap saja membuat pusing saat
dihadapkan dengan grammar. Teman yang
membuat grup menulis juga mengajak untuk sesekali berkirim pesan dengan Bahasa
Inggris untuk membiasakan diri dengan bahasa itu. Teman lainnya berkomitmen
untuk saling berkirim satu kata tiap hari untuk kata-kata yang belum familiar
kami gunakan. Lain lagi dengan Bahasa Arab. Teman seperjuangan saat nyantri
mengajak membuat kelompok belajar, kebetulan diantara kami ada yang melanjutkan
kuliah jurusan Bahasa Arab dan sedang berprofesi sebagai guru Bahasa Arab.
Jadilah dia didaulat sebagai guru kami. Saya yang pas nyantri hanya belajar dan
menghapal Bahasa Arab demi kepentingan
nilai tentu tertarik saat diajak bergabung dan entah bisa bertahan sampai
kapan. Saya bahagia dan bersyukur menemukan lingkaran-lingkaran kecil yang mau
belajar bersama.
Intinya, tahun ini saya mensyukuri kehadiran orang-orang
baik di sekitar saya dan lebih bersyukur lagi orang-orang tersebut membawa
pengaruh positif untuk saya baik dalam berpikir maupun bertindak.


