Tentang Ranggi dan Suaminya

Maret 23, 2019


“ini yang ketujuh kalinya ia lewat hari ini” kata wanita paruh baya di balai-balai desa.


“sepertinya ia akan lewat beberapa kali lagi sebelum adzan maghrib” wanita lain menimpali dengan menyeringai, diikuti seringaian wanita-wanita lain di balai-balai itu.


Tiap sore pembicaraan ibu-ibu di balai-balai depan kantor desa itu selalu diselingi pembicaraan tentang Ranggi. Wanita paruh baya yang menjadi pembicaraan warga desa Baruga akhir-akhir ini. suaminya meninggal setahun lalu dan ia mulai kehilangan kewarasan. Ranggi adalah perantau dari pulau Jawa dan menetap bersama suaminya di desa sebelah sejak enam tahun lalu. Ia tidak memiliki sanak keluarga dan tidak memiliki anak. 


Ranggi hampir tiap hari berkeliling kampung. Pakaiannya yang lusuh dan lembap, rambutnya yang acak-acakan ditambah tingkahnya yang kadang diluar kendali membuat warga desa jijik dan tak jarang yang mengolok-oloknya. Anak-anak berlarian ketika melihatnya.


Hampir tiap subuh warga mendapati Ranggi tidur di teras masjid beralaskan sarung dan berbantalkan pakaian yang terbungkus sarung yang selalu dibawanya kemana-mana. Pengurus masjid yang selalu datang lebih awal dari warga lainnya, selalu membanting pintu dengan sengaja agar Ranggi terbangun. Setiap terbangun ia hanya melotot dan mengumpat menggunakan bahasa Jawa pada pengurus masjid itu yang kira-kira berusia setengah abad.


Ranggi sangat jarang berada di rumah kayu berukuran empat kali enam peninggalan suaminya. Bagi Ranggi berada di rumah kecil itu selalu mengingatkannya pada suaminya yang sangat ia cintai. Ia menghabiskan siangnya di jalan-jalan desa baruga dan menghabiskan malamnya di masjid desa itu.


**

“Rania, jangan keluar nak, Ranggi akan memasukkanmu dalam bungkusannya dan membawamu kerumahnya kalau kau melewati pagar” teriak ibu muda pada putri kecilnya yang berusia 5 tahun.


Rania yang mendengar hal itu langsung berlari terbirit-birit memeluk Nara kakaknya.

“Apakah Ranggi semenakutkan itu bu?” tanya Nara.

“Ibu hanya menakut-nakuti adikmu” jawab ibunya.

“Kurasa Ranggi wanita kuat yang baik hati bu” kata Nara memicingkan mata.


“Apa yang kau tau nak?, tiap hari dia hanya meresahkan warga kampung dengan tingkahnya” jawab ibunya berlalu meninggalkan Nara.


Gadis 12 tahun itu tak henti-henti mereka-reka perkataan ibunya yang ia rasa sedikit mengganjal.


Ranggi memang selalu menjadi bahan para ibu menakut-nakuti anaknya agar tak keluar rumah. Anak-anak di desa itu sudah terbiasa ditakut-takuti ibunya, terlebih Nara dan Rania yang rumahnya tepat di depan masjid tempat Ranggi selalu menghabiskan malamnya.


**

Hari itu pada penghujung tahun yang basah, tak seperti biasanya, sejak pagi Ranggi tak terlihat berkeliling desa. Hanya satu dua Ibu-ibu di balai-balai desa yang menyadari hal itu dan nampak acuh. Kabar yang terakhir mereka dengar Ranggi pergi meninggalkan masjid pada saat hujan deras setelah dibangunkan oleh penggurus masjid.


Beberapa hari kemudian, warga mendengar kabar bahwa Ranggi telah pergi menutup mata. Hari-hari berlalu begitu saja tak ada lagi pembicaraan tentang Ranggi. Anak-anak dengan riangnya bermain di luar rumah tanpa khawatir akan kehadiran Ranggi. Warga yang datang ke masjid tiap subuh pun nampak acuh bahkan tampak senang karena tak ada lagi bau menyengat dari tubuh Ranggi yang lembap. 


Hampir sebulan setelah kematian Ranggi, pengurus masjid yang selalu membangunkannya menyadari bahwa masjid itu tak sebersih biasanya meski telah dibersihkan selepas shalat Isya.


Sepulang ke rumah, pengurus masjid itu menceritakan keganjilan yang dirasakannya pada istrinya. Nara yang mendengar pembicaraan kedua orangtuanya datang dan menyela “ Masjid itu tak akan sebersih biasanya ayah, orang yang selalu membersihkannya sudah tiada”. 


“Apa maksudmu nak?” tanya ayah Nara.


“Tiap terbangun di malam hari, aku selalu melihat Ranggi membersihkan masjid. Akhir-akhir ini tiap terbangun aku selalu melihat keluar jendela. Sudah tak ada lagi Ranggi, yang ada hanya masjid yang kelak akan menjadi saksi pemberat amalan Ranggi di akhirat”  jelas Nara dengan menitikan air mata.


“Kemarin aku mendengar cerita tetangga Ranggi yang juga teman sekelasku. Ranggi selalu datang ke desa ini dan membersihkan masjid tiap malam karena suaminya dulu adalah orang yang selalu membersihkan masjid ini” sambung Nara.


Raut wajah suami isteri itu langsung berubah dan nampak sendu.


Seketika ayah Nara teringat pada lelaki Jawa baik hati dari kampung sebelah yang selalu membersihkan masjid. Lelaki itu meninggal beberapa tahun lalu terbawa arus sungai saat berusaha menyeberang ke desa Baruga.


Oh...sungguh suami isteri yang baik hati

Kalimat itu selalu terlontar dari mulut para warga desa Baruga setelah cerita tentang Ranggi dan suaminya tersiar.


You Might Also Like

3 komentar

  1. Mantap nih Fira nulis cerita fiksi 😄👍👍👍

    Kadang ketika stigma negatif melekat pada diri seseorang maka akan susah melepaskannya, Ranggi sepertinya meskipun kehilangan kewarasannya ia masih berguna bagi sesama.



    BalasHapus
  2. MasyaAllah menginspirasi sekali ceritanya 🥰

    BalasHapus

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe