Rindu rumah dan Ramadan yang semakin dekat
Maret 08, 2019
Awal Maret 2019. Saya terbangun mendengar suara hujan yang begitu
menggema menghantam seng rumah kontrakan. Segera saya membuka pintu rumah, merasakan
angin sejuk yang datang bersama hujan. Mencium aroma tanah yang menyeruak.
Hujan. Tiba-tiba jadi rindu rumah. Tepatnya
rindu suasana rumah. Hujan
berhasil membuat rindu saya berlipat. Perasaan
rindu itu beriringan dengan perasaan bersalah saya terhadap orangtua. Terlebih
Ramadan semakin dekat dan sepertinya waktu untuk berbakti kepada mereka di bulan
suci akan tergantikan dengan aktivitas menyelesaikan tugas akhir di Makassar
dan beberapa aktivitas lain yang jadi bumbu-bumbunya.
Suasana semakin sendu saat saya
membaca postingan status salah seorang teman di WhatsApp “InshaAllah Ramadan
tahun ini tidak ada kegiatan. Kerja dan kuliah ditinggalkan. Ramadan
diperuntukkan mengejar surga-Nya. Dimulai dengan menjemput setengah surga dulu.
Surga yang nyata di rumah. Mamak dan Bapak.” Begitulah potongan statusnya.
Setelah membacanya muncul pertanyaan besar dalam diri saya. “Bagaimana dengan
saya?”, “Sampai kapan saya akan membuat alasan dan tidak menghabiskan Ramadan
dengan mereka?”
Teringat juga percakapan saya dengan mama lewat telepon Ramadan lalu
“Kapan pulang?”
“Ndak tau ini ma. Belum selesai urusanku.”
“Kau ini belum kerja jarangmi pulang rumah. Apalagi nanti kalau punya
jugami kerjaan sendiri.”
Mendengar jawaban dan nada suara mama, saya ndak bisa lagi berkata-kata.
Entah bagaimana perasaannya saat itu.
Padahal rumah saya letaknya tidak jauh dari Makassar. Rumah saya di
Mallawa, sebuah kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Bone, sekitar 100-an Km
dari Makassar. Jarak yang sangat dekat dibanding jarak ke Polewali Mandar,
kampung teman yang saya intip statusnya
tadi. Kadang memang diri sendiri yang menjadikan pertemuan dengan keluarga
menjadi sulit dengan banyak alasan.
Semoga aku dan juga kamu yang membaca tulisan ini menghabiskan Ramadan
dengan keluarga. Selagi masih bisa dan orangtua masih ada menunggu kepulangan
kita.


8 komentar
MasyaAllah... InsyaAllah, rindu kan terobati, dihari yang akan datang bersama keluarga tercinta. :)
BalasHapusehh iya kaak..bedalah sy sma kak Yaya yg tiap pekan pulang. hehe
BalasHapus...jadi RAINdu kampung halaman.
BalasHapusPulang kampung memang momen yg ditunggu kak...hehe
Hapuspas baca tulisan fira, rasanya sangat mengena di hati, sepertinya benar-benar tulisan yang ditulis dari dalam hati hehe... Semoga cepat lulus kuliah fira, dan dapat segera berbakti kepada orang tua,
BalasHapusSebentar lagi ramadhan ya, mohon maaf lahir batin...
Ehh iya Aamiin
Hapuskak..mohon maaf kalau ada salah.
Oteweee pulaaang wkwk
BalasHapusIya iya inn..Pulang mi
Hapus